Film and Contemporary Art

Film and Contemporary Art

Montase dan Revolusi

Carl Theodor Dreyer (1889–1968), umumnya dikenal sebagai Carl Th. Dreyer, adalah seorang sutradara film asal Denmark. Salah satu karyanya adalah The Passion of Joan of Arc (1928), sebuah film bisu, yang mengangkat tema perjuangan, pengorbanan, keyakinan, dan ketidakadilan yang terjadi pada abad ke-15. Joan of Arc diadili oleh pejabat pengadilan gereja karena mengklaim dirinya sebagai utusan Tuhan untuk menyelamatkan Prancis. Narasinya disarikan dari notulensi atau catatan resmi persidangan Joan, yang pada saat itu berusia 19 tahun, dan penderitaan yang ia alami di tangan gereja dan negara. Joan yang merupakan panglima perang ditarik oleh Dreyer dari medan perang ke dalam ruang persidangan. Ia ditarik dari pertempuran fisik melawan Inggris, ke dalam pertempuran keyakinan. Dreyer memberikan fokus yang lebih besar pada montase spiritual dan psikologis perjuangan Joan, dengan memanfaatkan sudut ambilan dan ukuran tangkapan gambar yang menciptakan efek dramatis melalui ekspresi keaktoran.

Poster film The Passion of Joan of Arc (1928) karya Carl Th. Dreyer. (Sumber gambar: Wikimedia Commons. Domain Publik.)

Film ini dirilis pada saat Eropa masih terguncang oleh dampak Perang Dunia I. Keadaan ini bersamaan dengan kebangkitan gerakan nasionalis dan totaliter, membuat tokoh Joan menjadi relevan sebagai interpretasi dari semangat keberanian individu dalam menghadapi otoriter. Selanjutnya, di dalam montase The Passion of Joan of Arc, melalui close-up pada wajah-wajah yang penuh ekspresi, terdapat ritme esensi kesadaran yang memicu semangat perlawanan revolusioner. Hukuman yang dijatuhkan pada Joan berupa pembakaran, memicu gerakan kolektif dari warga untuk pembebasan. Putusan sidang tersebut diberikan oleh gereja di depan umum sebagai tontonan akan penyiksaan ini. Itu menjadi titik balik sifat kenabian Joan of Arc. Masyarakat marah dan berujung menyerang gereja yang korup sistemnya dan manipulatif. Citra Alkitab dengan rantai besi yang disentuh Joan pada adegan awal, merupakan wujud semangat independen, mengilhami Revolusi Protestan.

Ilham yang lain juga ada dalam film Battleship Potemkin (1925), tetapi bukan urusan keyakinan terhadap religi tertentu. Montase film ini adalah konstruksi untuk memperlihatkan perjuangan kelas pekerja melawan tirani, dengan keyakinan yang didasarkan pada rasa kemanusiaan dan kesetaraan. Alur berjalan maju melalui adegan-adegan solider dari kelasi-kelasi kapal Potemkin atas ketidakadilan, dan kekuatan massa untuk mengubah nasib mereka sendiri. Sergei Eisenstein mengangkat semangat revolusioner dan mengkritik kekejaman rezim Tsar. Montase milik Eisenstein tidak hanya berfungsi untuk menceritakan kisah, tetapi juga untuk membangkitkan emosi dan gagasan melalui tabrakan gambar-gambar. Adegan Odessa adalah contoh paling terkenal dari teknik montase ini. Hierarki gambar tersusun melalui sudut ambilan kamera dari bawah Tangga Odessa memperlihatkan jenjang manusia yang berdesakan dan struktur kekuasaan. Dinamika ketegangan dan rasa kaotis yang luar biasa tercipta lewat jukstaposisi antara datangnya tentara dari atas yang mengejar massa dengan kereta bayi yang meluncur ke bawah.

Poster film Battleship Potemkin (1925) karya Sergei Eisenstein. (Sumber gambar: Wikimedia Commons. Domain Publik).

Battleship Potemkin dirilis dalam semangat Revolusi Rusia yang melahirkan Uni Soviet, yang sedang membangun identitas nasionalnya dan sedang mempromosikan ideologi komunisme lewat konstruksi citra dan montase. Film ini merupakan salah satu alat propaganda ideologi komunisme, sekaligus pembuktian sikap politik Eisenstein atas perjuangan kelas yang tegas. Perjuangan melawan tirani menekankan kekuatan moral serta keteguhan dalam menghadapi ketidakadilan. Ketidakteraturan gerak kerumunan dikonstruksi dengan momentum-momentum terukur, membangun tensi dan stimulus bagi dan dari penonton.

Meskipun The Passion of Joan of Arc dan Battleship Potemkin berasal dari latar belakang budaya dan politik yang berbeda, keduanya berkomitmen untuk menggunakan montase sinematik yang inovatif pada dua dekade awal kelahiran sinema untuk menyampaikan cerita yang mendalam dan berpengaruh. Dalam kuratorial ini, tidak penting lagi membicarakan di mana lokasi perjuangan mengambil tempat. Keduanya membicarakan gagasan bagaimana fondasi sebuah negara terbentuk. Dreyer dengan pendekatan montase anti-lanskapnya dan Eisenstein dengan montase konstruktifnya, sama-sama menunjukkan bahwa sinema bisa menjadi alat kritik sosial dan politik yang kuat.

Tentang Penulis:

Avatar Tuba Fallopi

Suka artikel ini?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari FOOTAGE

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca