Film and Contemporary Art

Film and Contemporary Art

Citra dan Disensus

Bromocorah secara kekinian, semacam kontingensi, ia postulat yang selalu berpotensi ada dalam setiap tatanan. Sebagaimana modernitas mengalami krisis dari paham esensialismenya, selalu ada yang ‘salah hitung’ dari pembagian geometris dalam sebuah tatanan yang didasari oleh esensialisme tersebut.

Tangkapan layar dari film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983, karya Chaerul Umam; skenario oleh Asrul Sani).

Istilah ‘salah hitung’ merujuk pengertian ‘yang salah’ (the wrong/le tort), sebuah istilah dari pandangan Jacques Ranciere dalam melihat sebuah tatanan, bahwa: selalu ada yang luput karena keterbatasan inderawi. Pengertian ‘yang salah’ bukan sebuah kategori moral, namun lebih dekat ke makna netral “keliru” atau salah hitung. Dalam kerangka politik Ranciere, ia adalah disensus (ketidaksepakatan—gangguaan), yakni ketika ‘yang salah’-lah yang menegaskan dirinya ada, atau memverifikasi dirinya ada di depan tatanan yang tidak menghitungnya tersebut.

Tangkapan layar dari film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983, karya Chaerul Umam; skenario oleh Asrul Sani).

Pandangan Ranciere ini sebenarnya untuk menyatakan bahwa kesetaraan adalah pendasaran atas segalanya, namun kesetaraan bukanlah tujuan. Kesetaraan justru menjadi titik berangkat dan selalu diandaikan terus-menerus untuk mengakomodir hal ‘yang salah’ atau ‘tak dihitung’ memverifikasi dan menegaskan dirinya di hadapan tatanan sosial. Sementara, jika kesetaraan sebagai tujuan, maka akan merujuk pada kesetaraan distributif atau proposional, yaitu kesetaraan yang sudah mengandaikan pembagian-pembagian. Kesetaraan dalam pandangan Ranciere ini bersifat kontingen, ia bukanlah kesetaraan yang bersifat material, namun lebih kesetaraan akal budi yang memang dimiliki oleh semua manusia.

Tangkapan layar dari film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983, karya Chaerul Umam; skenario oleh Asrul Sani).

Seturut tema bromocorah, dalam kaitannya dengan konsepsi ‘yang salah’ menurut Ranciere, postulatnya tidak lagi diandaikan dalam pretensi moral, namun bisa diandaikan sebagai pihak ‘yang salah’ sebagaimana pandangan Ranciere tersebut: untuk melihat bagaimana kerja-kerja seni hari ini sudah tidak bisa lagi dipartisi dalam bidang-bidang medium maupun genre yang tetap, untuk melihat kemungkinan-kemungkinan dari hal-hal yang tak terlihat dan tak terdengar menjadi tampak dari situasi sosial politik kekinian yang semakin kompleks.

Tangkapan layar dari film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983, karya Chaerul Umam; skenario oleh Asrul Sani).

Film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983) karya sutradara Chaerul Umam berdasarkan naskah Asrul Sani—Asrul sendiri sebelumnya telah memfilmkan naskahnya dengan judul yang sama pada tahun 1959—merupakan kisah tentang bagaimana keindividuan tokoh Ibrahim hadir memecah kejumudan tatanan sosial yang timpang secara moral. Ibrahim telah menjadi tokoh yang, dalam kerangka pemikiran Ranciere, ialah sebagai yang ‘tak dihitung’, yang kemudian menegaskan kesetaraannya dalam usahanya mengonfigurasi kembali tatanan yang ada.

Tangkapan layar dari film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983, karya Chaerul Umam; skenario oleh Asrul Sani).

Secara naratif, tokoh Ibrahim adalah figur asing yang datang ke sebuah desa untuk menjadi guru. Keindividuannya merupakan pandangan modernitas kala itu. Namun, posisinya biasanya dibaca sebagai sebuah pihak ‘yang salah’ ala Ranciere. Seperti biasa, dalam narasi lama, kehadiran orang luar membawa sebuah kesadaran sosial baru, yang kemudian mengubahnya dengan menyingkap beberapa kebobrokan tatanan lama yang bisu tanpa kehadiran orang ‘baru’. Tokoh Ibrahim adalah bromocorah dalam pengertian pihak ‘yang salah’ dalam kerangka pemikiran Ranciere. Ia bukan lagi bromocorah dalam konsepsi moral sebagai bandit, pemberontak, dan lain sebagainya. Bromocorah dalam konteks tokoh Ibrahim adalah sebuah postulat individu yang selalu berusaha mengakali dan menegaskan dirinya di tengah kejumudan sebuah sistem, untuk dikonfigurasi kembali.

Tangkapan layar dari film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983, karya Chaerul Umam; skenario oleh Asrul Sani).

Tinjauan ulang atas film Titian Serambut Dibelah Tujuh ini, sebagaimana semangat politik dalam diri bromocorah sebagai pihak ‘yang salah’ ala Ranciere, mendorong pembacaan yang meletakkan politik bukan lagi sebagai soal penggunaan dan perebutan kekuasaan. Politik adalah disensus—sebagaimana seni, ia adalah ketidaksepakatan atau gangguan terhadap tatanan yang ada, yang selalu mengandaikan ada pihak yang tidak dihitung. Hubungan citra pada film pada dasarnya memiliki potensi kedekatan dengan politik, sebagaimana juga pandangan Ranciere yang melihat kedua hal tersebut sama-sama terlibat dengan apa yang disebutnya sebagai ‘partisi yang sensibel (indrawi)’ (distribution of the sensible)

Pengertian sensibel bukanlah persoalan ketepatan persepsi (yang terlihat, yang dapat terdengar, yang dapat terjamah), namun sensibel yang beroperasi sebagai seperangkat hubungan yang terbuka pada kontestasi (Manuel Ramos, 2013, hlm. 218). Sebagaimana postulat bromocorah, citra sendiri bukanlah sesuatu yang eksklusif. Ia dibentuk oleh elemen-elemen yang berbeda, yang meluapkan sebuah kesatuan visual. Potensi citra ini bahkan juga mengakomodir potensi kapasitas penonton dan seniman yang setara, agar tidak terjebak sistem beku dari geometris di antara keduanya.

Tangkapan layar dari film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983, karya Chaerul Umam; skenario oleh Asrul Sani).

Melalui pandangan Roland Barthes tentang hubungan studium (maksud pengarang/seniman)-punctum (impresi penonton), bisa diandaikan bahwa citra—selain memiliki potensi mengubah tatanan ‘apa yang tak visibel’ (tak terlihat) menjadi visibel, dan yang tak terdengar menjadi terdengar—juga mengandaikan ketaksaannya pada otonomi penonton yang lepas dari maksud pengarang.

Tangkapan layar dari film Titian Serambut Dibelah Tujuh (1983, karya Chaerul Umam; skenario oleh Asrul Sani).

Sebagaimana ambilan panjang (long take) dari adegan-adegan pada film Titian Serambut Dibelah Tujuh ini, citra yang bergerak seperti yang dibayangkan Andre Bazin: ia selalu memberikan durasi bagi para penonton untuk terus memilih citra apa yang akan diimpresi sehingga citra bersifat taksa. Citra selalu memiliki potensi sebagai disensus.

Ramos, Manuel. “Ranciere’s Politic of the Image” dalam Theorizing Visual Studies, disunting oleh James Elkins dan Kristi McGuire, bersama Maureen Burns, Alicia Chester, dan Joel Kuennen. New York: Routledge, 2013.

Wibowo, Setyo. “Pengantar” dalam Disensus: Demokrasi sebagai Perselisihan Menurut Jacques Ranciere, karya Sri Indiyastutik. Jakarta: Penerbit Kompas, 2019.

Tentang Penulis:

Avatar Akbar Yumni

Suka artikel ini?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari FOOTAGE

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca