Film and Contemporary Art

Film and Contemporary Art

Menatap Pada yang Berikutnya

KEHIDUPAN masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung, diatur oleh norma-norma sosial yang berlaku di lingkungannya. Norma atau aturan tersebut ada untuk menjaga agar interaksi antarwarga tetap berlangsung dengan baik, baik dalam pranata sosial, sistem, maupun lembaga yang bersinggungan dengan aturan tersebut. Pranata sosial mencakup keluarga, institusi kepolisian, institusi hukum—dalam hal ini pengadilan—dan perusahaan, serta kelompok pertemanan. Praktik menjaga keberlakuan aturan-aturan ini penuh tantangan, karena tiap pranata sosial boleh jadi memiliki norma atau aturan yang berbeda-beda. Pelanggaran terhadap aturan yang ada dapat terjadi dalam persinggungan antarpranata sosial tersebut, ataupun disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti alam dan kondisi sosial.

Nilai-nilai dalam sebuah pranata sosial dapat berbentuk dan dijaga secara formal maupun informal, baik secara verbal maupun tertulis, namun yang pasti dibuat untuk satu kepentingan yang sama, yaitu menjaga keteraturan. Karena itu, kerja sama antarpranata sosial kerap dilakukan demi menjaga situasi kondusif bersama-sama, walaupun dengan kepentingan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, hubungan antara institusi kepolisian dan pengadilan: polisi sebagai aparat penegak hukum bertugas menindak pelanggaran aturan yang terjadi, kemudian membawa pelanggar ke pengadilan untuk menentukan hukuman yang sesuai berdasarkan bukti-bukti. Namun, tidak jarang penegakan aturan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Penyebabnya bisa jadi karena adanya perbedaan dalam mengartikan sebuah aturan; beberapa pihak memanfaatkan kelemahan subjek hukum di dalam aturan itu sendiri, atau, bagi beberapa pihak di luar institusi negara, di masyarakat. Hal ini muncul sebagai aksi protes karena pihak-pihak itu tidak bersetuju (pada hukum) dan kemudian mengajukan gagasan untuk mengoreksi aturan-aturan tersebut.

Tiga film yang akan dibahas dalam tulisan ini—The Grapes of Wrath (AS, 1940) karya John Ford, Shoeshine (Italia, 1946) karya Vittorio de Sica, dan Stray Dog (Jepang, 1949) karya Akira Kurosawa—menampilkan berbagai bentuk persinggungan antarpranata sosial dalam masyarakat. Ketiga film ini menggambarkan perpindahan subjek dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mengungkap relasi dan negosiasi antarpranata sosial. Dari pengadilan ke penjara, dari tanah yang telah dihuni turun-temurun ke tanah baru yang lebih subur, serta dari satu tempat publik ke tempat publik lainnya. Subjek-subjek ini diwakili oleh anak-anak remaja, keluarga petani penggarap lahan, dan seorang polisi yang kehilangan pistolnya. Migrasi yang digambarkan dalam ketiga film tersebut memetakan persoalan di wilayah latar tempat film-film itu diproduksi. Konteks peristiwa sejarah yang traumatis direkatkan dengan pengalaman manusia-manusia yang menghidupi ruang-ruang yang berbeda sebagai upaya untuk menelusuri akar permasalahan sosial sekaligus mencari jalan keluarnya.

Poster film The Grapes of Wrath (AS, 1940) karya John Ford.

The Grapes of Wrath bercerita tentang keluarga petani penggarap lahan milik sebuah perusahaan. Karena wilayah tersebut dilanda bencana kekeringan, perusahaan memutuskan untuk mengambil kembali tanah dan lahan mereka. Akibatnya, rumah dan ladang keluarga itu digusur. Sebelum penggusuran terjadi, para petani sempat melakukan perlawanan untuk menghentikan traktor yang akan menggusur lahan dan rumah mereka. Namun, sopir traktor—yang kebetulan mengenal keluarga petani tersebut—terpaksa tetap melanjutkan tugasnya karena ia, yang sebelumnya juga merupakan petani penggarap, kini harus bekerja untuk perusahaan demi menyambung hidup keluarganya. Akhirnya, keluarga petani itu pergi ke California untuk bekerja sebagai buruh di perkebunan. Kisah ini menggambarkan perubahan dalam sistem manajemen perusahaan di masa resesi, yang beralih dari sistem yang ramah bagi petani menjadi bentuk yang lebih kaku dan industrialis. Petani yang ingin bertahan hidup di lingkungan tersebut harus mengikuti aturan baru, bahkan jika itu berarti menggusur sesama petani.

Di sinilah letak kerumitan hubungan antara manusia—yang dengan kemampuan tradisionalnya harus berhadapan—dengan era baru industri. Kerumitan ini tidak terlepas dari pengalaman mereka di tanah baru yang menjadi tujuan mereka berikutnya. Setibanya di California, keluarga petani tersebut bekerja di perkebunan. Industrialisasi membawa dampak terhadap upah pekerja. Tom Joad, salah satu anggota keluarga itu, terlibat dalam aksi pemogokan karena upah yang dianggap tidak layak. Dalam situasi negara kapitalis, di mana pemilik modal memegang peranan penting dalam jalannya sebuah negara, penegakan hukum di lapangan—yang diwakili oleh institusi kepolisian—serta kepentingan perusahaan dan institusi negara sering kali berada di pihak yang sama. Akibatnya, aksi pemogokan dianggap ilegal, dan siapa pun yang terlibat, termasuk Tom, akan dicari dan ditangkap. Migrasi dalam film ini menjelaskan hubungan segitiga antara negara, perusahaan, dan masyarakat, serta perubahan model bisnis, termasuk cara bertani yang harus menyesuaikan diri dengan era industrialisasi. Perubahan-perubahan tersebut memberikan gambaran mengenai manajemen produksi perusahaan pertanian, sistem upah, dan peralihan konteks profesi petani menjadi pekerja (buruh).

Shoeshine menghadirkan persoalan yang bukan hanya mengenai upaya mencari titik temu di antara pranata-pranata sosial yang terlibat, tetapi juga mencerminkan upaya-upaya yang dilakukan oleh sebuah negara untuk menata kembali masyarakat pascakehancuran akibat Perang Dunia II. Secara ironis, De Sica menampilkan anak-anak remaja yang bekerja sebagai penyemir sepatu di kota Roma. Kelompok anak-anak tersebut, seperti warga Italia lainnya, dipaksa terlibat dalam situasi pascaperang yang bukan mereka inginkan, tetapi mereka juga mewakili generasi harapan yang akan membangun kembali Italia setelah turunnya rezim fasis di bawah Benito Mussolini.

Poster film Shoeshine (Italia, 1946) karya Vittorio de Sica.

Film ini berfokus pada hubungan dua remaja laki-laki bernama Giuseppe Filippucci dan Pasquale Maggi, yang diminta oleh beberapa laki-laki dewasa untuk menjual selimut ilegal peninggalan tentara Amerika Serikat di sebuah dermaga. Karena perbuatan tersebut, mereka ditangkap oleh polisi, ditempatkan di penjara anak, dan diadili. Penangkapan mereka diharapkan dapat mengungkap rantai kriminal pasar gelap di Roma. Penjara anak tersebut memperlihatkan berbagai tindakan kriminal yang dilakukan oleh sesama tahanan remaja untuk bertahan hidup. Anak-anak itu diminta mengungkap siapa yang menyuruh mereka menjual selimut. Untuk membongkar sindikat barang ilegal, polisi melakukan berbagai cara, termasuk memanipulasi Pasquale dengan berpura-pura mencambuk Giuseppe menggunakan ikat pinggang kulitnya, demi mendapatkan nama sumber selimut ilegal itu.

Pada masa sulit itu, pasar gelap menjadi tempat pilihan bagi anak-anak miskin untuk bertahan hidup, sementara barang-barang dari Amerika, seperti selimut, dianggap bermutu tinggi dan melambangkan kemajuan serta prestise. Penangkapan Giuseppe dan Pasquale menunjukkan upaya Italia yang sedang bangkit dari kehancuran pasca-Perang Dunia II untuk menata kembali negaranya, terutama melalui penegakan hukum. Karenanya, kedua remaja tersebut harus menjalani hukuman penjara dan membayar denda.

Film ini mengajak kita, melalui kisah kedua remaja itu, untuk menjelajahi institusi-institusi sosial yang berperan dalam persoalan yang mereka hadapi, sesuai dengan aturan yang berlaku. Pengadilan dan penjara anak merupakan institusi penegakan hukum yang dikelola oleh negara, sekaligus tempat di mana kriminalitas dapat bersiklus dan berakar di kemudian hari. Film ini menghadirkan refleksi kegundahan dan kritik tajam terhadap peran pranata-pranata sosial yang menjaga ketertiban, namun di saat yang sama dapat turut menyuburkan kriminalitas dalam suatu negara.

Stray Dog, berbeda dengan Shoeshine, baru mengungkapkan siapa pelaku kriminal di akhir cerita. Pelaku dan motif tindak kriminal bukan menjadi fokus utama. Kriminalitas digambarkan sebagai bagian dari perjuangan hidup di tengah kemiskinan pascaperang. Film ini mengikuti perjalanan Murakami, seorang polisi yang kehilangan pistolnya akibat dicopet di tengah keramaian. Penelusuran pistol tersebut membawanya pada potret jalur kemiskinan masyarakat kota pascaperang sekaligus sindikat pasar gelap tempat pistol itu beredar. Informasi yang diperoleh Murakami berkelindan dengan siklus pasar gelap melalui interaksinya dengan pelaku maupun informan yang ditemui sepanjang penyelidikan.

Poster film Stray Dog (Jepang, 1949) karya Akira Kurosawa.

Film ini menggambarkan sirkulasi pasar gelap melalui perpindahan pistol dari satu tangan ke tangan lain. Perpindahan tersebut mencerminkan kondisi masyarakat Jepang pasca-Perang Dunia II dan bagaimana kesulitan ekonomi memicu tindakan kriminal demi bertahan hidup. Pasar gelap menjadi arena pertukaran barang ilegal sekaligus ruang aktivitas ekonomi yang melanggar hukum. Kurosawa seolah menyampaikan bahwa persoalan ekonomi yang sulit bukan hanya tanggung jawab negara, tetapi juga menjadi beban masyarakat. Visual film dipenuhi tangkapan kaki-kaki manusia di ruang publik sebagai lokasi investigasi. Wajah tidak selalu menjadi pusat perhatian; gerak kaki yang bergegas, jalanan yang berdebu dan berlumpur, serta tubuh yang basah oleh peluh menjadi ajakan untuk memperhatikan jejak perjuangan manusia dalam upaya bangkit kembali.

Ketiga film ini menarik karena menggambarkan respons masyarakat terhadap lemahnya fungsi pranata sosial melalui perpindahan karakter dari satu lokasi ke lokasi lain. Hal ini merefleksikan ketegangan antara kenyataan institusional dan kenyataan kewargaan yang tidak selalu berjalan secara resiprokal. The Grapes of Wrath menunjukkan bagaimana bencana alam dan resesi ekonomi mengubah sistem pertanian dalam kerangka kapitalisme. Shoeshine mengungkap penindakan hukum yang paternalistik-manipulatif terhadap anak-anak miskin di Italia pasca-Perang Dunia II. Sementara itu, Stray Dog menggambarkan kondisi ekonomi dan sosial Jepang pascaperang melalui sirkulasi sebuah pistol di pasar gelap.

Kehidupan masyarakat diatur oleh norma-norma sosial yang dijaga oleh berbagai pranata sosial, namun sering kali terjadi ketidaksesuaian antara norma dan kenyataan akibat perubahan sosial dan lingkungan. Bagaimanapun, para sutradara dari ketiga film ini agaknya berpendapat bahwa ini bukan lagi waktunya untuk terus menengok ke belakang; mereka justru mengajak kita untuk melihat dan mendengarkan lebih saksama mereka yang akan melanjutkan napas generasi di kemudian hari.

Tentang Penulis

Dahlan Khatami Avatar

Leave a Reply

Discover more from FOOTAGE

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading