Sumber:
Wijayarana, A. 2024. “Persona dalam Inter-personal”. Dalam A. Osman, O. Widasari, & Y. Aditya (peny.), S… Untuk Sinema. Jakarta: Forum Lenteng, hlm. 166-173.
Meminjam perkataan Jerome Bruner, psikolog asal Amerika, seseorang membentuk siapa diri mereka melalui pengalaman dan interaksinya dengan dunia luar. Peristiwa-peristiwa yang diresap oleh manusia itu kemudian diinternalisasi, dimasukakalkan, dan kemudian membentuk siapa diri mereka. Proses pengidentifikasian diri ini berguna bagi para individu untuk menempatkan dirinya di tatanan sosial. Proses pembentukan konsep diri ini menjadi kompleks ketika peristiwa yang dihadapi merupakan pengalaman yang tidak mengenakkan: sisa-sisa trauma perang yang membekas di benak korban, tuntutan profesi manusia modern yang mengharuskan hasil kerja yang sempurna, kecelakaan kerja yang menghancurkan wajah seseorang, hingga hubungan relasi personal antarmanusia yang harus berjalan mulus. Konstruksi tersebut memengaruhi bagaimana kita membawa diri, mempertontonkan diri, serta mempresentasikannya agar bisa harmonis dan bisa diterima oleh lingkungan yang berisi nilai-nilai kultural, norma, dan ekspektasi.
Yang menjadi kendala bagi suatu sistem masyarakat adalah, pergulatan atas masa lalu, serta trauma yang dilalui inilah yang kemudian menghambat manusia untuk “berfungsi”. “Berfungsi” untuk melakukan pekerjaannya, dan “berfungsi” untuk menjaga hubungannya dengan manusia. Hal ini bisa mengakibatkan roda sosial ekonomi yang mandek. Mengidentifikasi, serta mencari resolusi untuk menuntaskan berbagai pergulatan pribadi adalah hal yang sukar dilakoni. Di saat yang bersamaan, perputaran institusi-institusi ini harus terus berjalan. Ada suatu kesadaran kolektif dari sebuah masyarakat yang mengharuskan diri mereka untuk tetap “berfungsi” sebagai sekrup-sekrup mesin penggerak sosial. Kesadaran kolektif ini terbangun karena hal apa pun yang terjadi, perputaran ekonomi harus terus berjalan, dan pembangunan mesti tetap dilanjutkan untuk menopang kehidupan masyarakat. Maka dari itu, untuk mengorganisir diri, meregulasi identitas diri yang terus dipertanyakan, manusia membentuk wajah-wajahnya di hadapan orang-orang yang berbeda. Wajah-wajah inilah yang disebut Carl Jung sebagai persona. Di hadapan orang banyak, persona ditampilkan untuk menyamarkan pergulatan yang dihadapi setiap orang. Persona sosial dibutuhkan untuk adaptasi, dan persiapan kehidupan manusia dewasa untuk menghadapi dunia sosial eksternal.
“The persona is a complicated system of relations between the individual consciousness and society, fittingly enough a kind of mask, designed on the one hand to make a definite impression upon others, and, on the other, to conceal the true nature of the individual.”
(Jung, 264: 1966)
Hal ini terbahas dalam film The Face of Another (1966, Jepang), karya Hiroshi Teshigahara. Tn. Okuyama (Tatsuya Nakadai), baru saja mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan wajahnya menjadi hancur tak berbentuk. Keterasingan semakin dirasakannya ketika hubungan dirinya dengan istrinya menjadi terganggu. Orang-orang yang ditemui Tn. Okuyama juga memandangnya dengan tatapan asing. Perlakuan para koleganya juga terkesan agak berbeda dari apa yang Tn. Okuyama selama ini terima.

Seperti yang dikatakan oleh Jung, untuk mengompromikan peristiwa-peristiwa traumatik tersebut, Tn. Okuyama melakukan usahanya untuk membentuk sebuah wajah. Dengan menemui seorang dokter, ia akhirnya bisa memakai sebuah topeng untuk menyamarkan lukanya, dan merasakan kebebasan yang dirasakan oleh orang-orang pada umumnya. Tuntutan masyarakat agar individu membentuk personanya tergambar secara implisit ketika Tn. Okuyama yang dipenuhi perban sedang mencari apartemen untuk menyembunyikan dirinya. Sang pemilik apartemen dengan jubah mandinya meminta maaf karena penampilannya yang kurang pantas, sembari melihat Tn. Okuyama dengan tatapan takut.
Sebagai penonton, muncullah spekulasi mengenai komunikasi tidak langsung yang diucapkan oleh sang pemilik apartemen terhadap Tn. Okuyama. Bisa jadi ia meminta maaf atas penampilannya, namun dengan raut wajah yang tidak enak, pengarahan pesan kepada Tn. Okuyama bisa bermakna yang isinya berkomentar tentang presentasi diri Tn. Okuyama.
Terjadi pengulangan adegan yang sama persis pada paruh kedua film ini berlangsung. Dengan penuturan yang hampir identik, sang pemilik apartemen dengan jubah mandinya meminta maaf karena penampilannya yang kurang pantas, sembari melihat Tn. Okuyama dengan tersenyum ramah.
Dengan perubahan yang tipis saja, wajah sang pemilik apartemen berubah menjadi lebih rileks. Bentukan norma yang menuntut pembentukan persona ini dihadirkan dan dikomparasikan oleh Teshigahara secara berlainan. Sudah tertanam kesadaran kolektif untuk berpenampilan secara pantas di hadapan orang lain yang tergambar dari ekspresi meminta maaf sang pemilik apartemen kepada Tn. Okuyama. Selain presentasi pakaian, presentasi wajah juga memengaruhi kesan orang lain kepada kita. Dari kedua adegan yang sama persis ditampilkan, raut wajah sang pemilik apartemen begitu berbeda ketika menghadapi Tn. Okuyama yang dipenuhi perban dengan dirinya yang memakai topeng.
Dalam film ini, ditampilkan pula tokoh kedua, yaitu seorang perempuan korban pengeboman perang dan luka di wajahnya terekspos begitu gamblang. Terlihat dalam film tersebut, ia berusaha untuk berkompromi dengan berusaha terus-menerus menutup wajahnya di bagian kanan yang penuh dengan luka tersebut. Namun, tetap saja orang-orang terlihat menjauh dari dirinya, yang bahkan anak-anak kecil memanggilnya dengan sebutan monster. Si perempuan gagal mempresentasikan dirinya yang dalam hal ini berbeda dengan Tn. Okuyama yang berhasil membentuk wajah yang baru. Faktor pembeda lainnya ialah struktur kelas yang berlainan dari kedua tokoh ini. Tn. Okuyama yang seorang petinggi sebuah perusahaan memiliki modal dan kesempatan yang lebih banyak untuk mengoreksi wajahnya yang rusak. Sementara tokoh perempuan yang seorang pekerja pabrik tidak memiliki kesempatan yang sama dengan Tn. Okuyama. “Wajah” sosial yang tidak sesuai dengan standar masyarakat dan institusi bisa menyebabkan para individu menjadi terisolasi dan terasing. Kedua tokoh ini dihadapkan pada dua proses yang terjadi secara bersamaan: menuntaskan rasa traumatik yang menimpa mereka, sekaligus berusaha untuk tampil kembali dan diterima oleh masyarakat.
Studi tentang persona kembali dieksplorasi dalam film kedua mengenai pergulatan di dalam diri dan bagaimana manusia menuntaskannya. Ingmar Bergman secara langsung menyematkan judul Persona (1966, Swedia) di dalam filmnya. Elisabet (Liv Ullmann) disebut oleh temannya adalah seorang aktris yang bertalenta namun kurang memiliki sifat keibuan. Omongan dari koleganya tersebut kemudian terpendam dan terpikirkan oleh Elisabet. Sebagai seorang perempuan, tentunya ia memiliki perangkat menjadi seorang ibu. Namun, dengan rasa setengah hati akhirnya ia memutuskan untuk memiliki anak. Meskipun di tengah jalan kehamilannya ia berusaha untuk menggugurkan kandungannya, anak tersebut kemudian tetap lahir. Hal itu semakin jelas menunjukkan beban pengasuhan yang dipikul oleh Elisabet. Montase atas dilema dan beban yang dipikulnya, secara halus dihadirkan oleh Bergman di paruh awal film ketika surat yang dikirim suaminya yang berisi foto anaknya dirobek oleh Elisabet. Seberapa relevankah Elisabet, yang merupakan seorang aktris ini, memenuhi ekspektasi dari masyarakat menjadi seorang ibu? Sebagai seorang aktris, tentunya ia sadar akan pentingnya citra dirinya di hadapan orang lain. Namun, pergulatan nilai yang dianutnya kembali ditantang oleh pandangan masyarakat. Pencampuradukan antara niat awalnya yang tidak ingin memiliki anak, ditambah beban pengasuhan yang dipikulnya agar bisa terlihat sebagai ibu yang baik membuat dirinya menjadi terasing.

Elisabet berada di rumah sakit selama berbulan-bulan. Dengan keterasingannya, ia terisolasi dari orang lain dan dunia luar. Teman yang ia miliki adalah Alma (Bibi Andersson) dan sebuah televisi di kamarnya. Dalam film, digambarkan Elisabet menonton berita di televisi tentang seorang pendeta Buddha bernama Thích Quảng Đức yang membakar diri sebagai bentuk protesnya atas persekusi para pendeta Buddha di masa pemerintahan Ngô Đình Diệm di Vietnam Selatan. Di lain adegan ketika Elisabet ingin beristirahat, ia melihat sebuah foto penangkapan anak Yahudi yang berlokasi di sebuah ghetto di Warsawa ketika Perang Dunia II sedang berlangsung, diletakkan di meja samping tempat tidurnya. Bergman kembali memperlihatkan faktor-faktor pembentuk konsep diri yang salah satunya adalah media yang kita konsumsi. Berita, serta kejadian-kejadian di luar jangkauan kita yang kemudian dibingkai oleh media menciptakan realitas yang baru, meningkatkan kengerian serta paranoia bagi Elisabet. Media yang dikonsumsi menjadi terinternalisasi dan masuk ke dalam pergulatan diri Elisabet yang semakin memperparah kondisi mentalnya.
Dunia internal selalu membayang-bayangi kehidupan kita di luar. Ia samar-samar saling berebutan ingin mencuat ke atas. Namun, pergulatan ini harus direpresi dan kemudian disamarkan dengan persona. Dengan penghadiran dua aktris ini, Bergman secara visual mengonstruksi pergulatan dunia luar dan dunia internal yang dialami oleh seorang manusia. Dengan shot-shot tubuh kedua tokoh yang saling tumpang tindih, serta shot-shot yang memperlihatkan salah satu sisi wajah yang menggambarkan dua sisi manusia (internal dan luar) yang saling bertabrakan dan bergulat satu sama lain.
Layaknya bayangan, persoalan individu yang terus-menerus bergulat dengan dunia internal ini akan selalu beriringan ke mana pun manusia melangkah. Seperti Elisabet yang bergulat dengan bayang-bayang “peran” keibuannya, permintaan anaknya untuk mendapatkan kasih darinya, serta profesinya sebagai aktris yang memengaruhi laku hidupnya untuk terus-menerus berperan. Permainan bayangan ini kemudian dijadikan Bergman sebagai metafora atas peristiwa yang dilalui oleh manusia dan akan selamanya menjadi bagian dari diri mereka.
Di awal telah dipaparkan bagaimana sukarnya seseorang yang berusaha untuk menuntaskan peristiwa traumatiknya dan di saat yang bersamaan ia harus tetap tampil di masyarakat sebagai manusia yang “berfungsi”. “Dialog” antara dunia internal dan dunia luar ini kemudian dipertemukan oleh Bergman secara visual yang pada akhirnya menggabungkan kedua tokoh menjadi satu kesatuan antara person dan persona. Peristiwa traumatik yang menimpa Elisabet sebagai ibu dicuat kembali oleh “Alma”. Memasukakalkan pengalaman adalah sebuah usaha yang “mereka” lakukan untuk menuntaskan peristiwa yang belum usai terproses.
Kita sudah melihat bahwa Persona terbentuk tidak hanya dari dalam diri. Persona terbentuk dari norma sosial, budaya, tekanan institusi, hingga bentukan media. Setelah dipresentasikan ke orang lain, persona kemudian diterima, dan diinterpretasikan oleh orang-orang yang melihat persona tersebut. Atas dasar itulah, persona tidak melulu urusan personal, ia juga berurusan dengan publik. Masyarakat melakukan pembacaan atas persona orang lain yang mereka lihat. Hal tersebut tergambar di film ketiga dalam kompilasi ini: 8½ (1963) karya Federico Fellini. Dalam sebuah adegan test screen, Luisa (Anouk Aimée) tidak terima atas pembacaan Guido (Marcello Mastroianni) mengenai penggambaran dirinya di dalam film. Karakter Luisa dalam test screen tergambar begitu dingin dan ketus. Persona seseorang di hadapan orang lain menjadi semakin cair, kebenaran menjadi semakin relatif. Guido berusaha untuk jujur, namun Luisa menuduhnya berbohong. Sejak awal film berlangsung, hubungan kedua suami istri ini memang sudah terlihat makin renggang. Namun, dalam adegan test screen tersebut, bisa terlihat bahwa persepsi seseorang atas persona orang lain dapat berpengaruh terhadap kelangsungan hubungan relasi antarsesama manusia.

Dalam adegan test screen juga diperlihatkan bahwa seluruh awak produksi yang terlibat dalam proses syuting terus-menerus menekan Guido untuk segera mengambil keputusan. Guido semakin berada dalam pergulatan, dan muncullah sebuah pertanyaan: Apa itu sinema yang ideal? Pergulatan Guido yang ingin menyampaikan filmnya secara jujur harus berkonflik dengan para awak produksi yang mengharapkan film ini bisa sukses secara komersial. Apakah kejujuran Guido dalam menggambarkan persona orang-orang yang ia kenal, harus diberi bumbu dramatik untuk menggaet penonton lebih banyak? Kita dibawa masuk ke alam pikir Guido sepanjang film ini berlangsung, dan proses ini terjadi secara bolak-balik antara dunia internal dan dunia luar Guido. Visual antara khayalan, masa lalu, mimpi, adegan film, dan realitas menjadi kabur. Pengandaian akan kehidupan yang ideal, dan pertemuannya dengan orang-orang yang pernah singgah di hidupnya, semua termanifestasikan di dalam film yang ingin ia buat. Hal inilah yang kemudian problematis dalam diri Guido, dan memunculkan dua realitas: Realitas yang ideal adalah realitas sinema, dan realitas dirinya menghadapi orang lain dengan persona sebagai sutradara, anak, dan suami merupakan realitas yang penuh intrik. Maka tidak mengherankan jika film ini begitu masif dengan wajah-wajah yang bertebaran di dalamnya. Visual wajah yang banyak, menjadi penekanan Fellini dalam mengonstruksi ide tentang seorang individu mikro serta “peran” yang harus ia jalani ketika menghadapi beragam manusia.
Presentasi diri sudah terlempar ke publik, maka hal tersebut tidak dapat ditarik kembali. Proses pembentukan persona pada akhirnya bersiklus. Dari contoh adegan test screen di atas, wajah kita terpengaruh dari penilaian orang lain. Kita mempresentasikan diri, kemudian orang lain menilai presentasi kita, dan penilaian orang lain kita resap dan terproses dalam diri kita. Dalam proses tersebut, tidak menutup kemungkinan akan terjadinya pembentukan ulang sebuah persona, bernegosiasi dengan orang sekitar. Atau malah penilaian orang tersebut juga memungkinkan kita untuk merombak total persona yang selama ini kita bangun.
Dari ketiga film tersebut, persona tidak hanya sekadar memasang wajah kepada orang lain. Persona merupakan urusan yang begitu kompleks yang menyangkut pergulatan diri manusia dalam memosisikan dirinya di masyarakat. Kompleksitas tersebut yang kemudian dibingkai oleh sinema, dan dengan medium ini, kita bisa mengeksplorasi persoalan persona dari ranah individu hingga keberadaannya di situasi sosial.
Catatan Redaksi
Kami melakukan penyuntingan pada beberapa bagian untuk menyesuaikan ketentuan redaksional FOOTAGE. Pemuatan kembali tulisan ini di situs web footage.id dilakukan dalam rangka distribusi pengetahuan secara terbuka.


Tinggalkan Balasan