Sumber:
Wijayarana, A. 2025. “Ibunda: Sang Perekat Keluarga di Tengah Badai Rumah Tangga”. Dalam O. Widasari (peny.), FILM KLASIK INDONESIA: KUMPULAN ESAI KURATORIAL KRITIS. Jakarta: Forum Lenteng, hlm. 190-201.
“Betapa pun kedua orangtua saya orang kecil, tapi mereka—khususnya ibu—punya arti penting bagi saya. Karena, ia bukan saja sebagai perempuan yang telah rela melahirkan saya, tetapi juga yang telah mengasah saya dengan berbagai pemahaman-pemahaman sederhana, yang tidak saya temui di tempat lain.”
Teguh Karya
Kutipan tersebut diambil dari otobiografi Teguh Karya saat membicarakan sosok keluarganya. Dari tulisan tersebut, bisa dibaca bahwa Teguh Karya begitu mengagumi sosok ibunya. Seperti ibunda Teguh Karya yang memberi pemahaman-pemahaman terhadap dirinya, film Ibunda (1986) garapannya pun memberi penonton pemahaman-pemahaman sederhana tentang cara melihat dunia. Melalui mata ibunda, kita diperlihatkan pada situasi keluarganya yang runyam. Melalui mata ibunda, kita diperlihatkan fenomena sosial masyarakat urban yang penuh dengan keresahan dan diskriminasi halus terhadap etnis tertentu. Kegundahan hati ibunda terhadap masalah-masalah yang ada di sekitarnya seringkali tergambar dengan close-up shot wajahnya, melampaui kata-kata untuk mendeskripsikannya. Namun pada akhirnya, semua masalah bisa diatasi oleh sang ibunda. Dengan tegas dan lembut, ia mampu membereskan berbagai persoalan yang menimpa anak-anaknya. Apa yang signifikan dari sosok ibunda di sini?

Dikisahkan, anak-anak ibunda/ibu Rakhim (Tuti Indra Malaon) sedang dirundung berbagai masalah. Fitri (Ria Irawan) sang bungsu memiliki hubungan dekat dengan Luke (Onny Mayor), seorang laki-laki asal Papua. Secara umum, keluarga tidak mempermasalahkan hubungan mereka berdua. Namun, kakaknya Fitri Ida (Niniek L. Kariem), dan suaminya Gatot (Galeb Husein), terlihat keberatan apabila mereka melanjutkan hubungan mereka. Fikar (Alex Komang) sang abang laki-laki, seorang bintang teater terkenal yang akan naik menjadi bintang film. Melesatnya karir Fikar bukannya tidak ada masalah. Ia mengutamakan kariernya sehingga anak istrinya menjadi terlantar. Ditambah lagi, ia berselingkuh dengan produsernya. Ada lagi si Fachri, sang adik laki-laki. Ia masih kuliah, namun terus-menerus minta uang jajan ke kakaknya Ida untuk mempercantik motor kesayangannya.
***
Bila kita membicarakan Teguh Karya, maka kita tidak akan pernah bisa lepas dari sosoknya yang seorang sutradara teater pula. Film ini, secara keaktoran sangat terkait dengan teater. Teguh Karya memanfaatkan kekuatan mimik wajah para pemain untuk menekankan ketegangan atas masalah domestik yang sedang dihadapi oleh karakter-karakternya. Dari sini kita bisa merasakan emosi yang dituangkan kepada penonton, tanpa harus dijelaskan dengan kata-kata. Hal ini mengingatkan kita pada metode akting yang diperkenalkan oleh Constantin Stanislavski, yang disebut dengan emotion memory.
‘What do you feel, either spiritually or physically, when you recall the tragic death of the intimate friend you told me about?’
I try to avoid that memory, because it depresses me so much.’
‘That type of memory, which makes you relive the sensations you once felt when seeing Moskvin act, or when your friend died, is what we call emotion memory. Just as your visual memory can reconstruct an inner image of some forgotten thing, place or person, your emotion memory can bring back feelings you have already experienced. They may seem to be beyond recall, when suddenly a suggestion, a thought, a familiar object will bring them back in full force. Sometimes the emotions are as strong as ever, sometimes weaker, sometimes the same strong feelings will come back but in a somewhat different guise.
(Stanislavsky, 1967, hlm. 168)
Melalui pendekatan aktingnya, para aktor diarahkan untuk mengingat momen-momen dalam hidup mereka, terhadap emosi yang diinginkan saat berakting. Dari sini, para pemain dapat mengakses emosi yang ingin dicapai, dan memainkannya dengan penuh kesungguhan. Nampaknya, metode ini juga diimplementasikan oleh Teguh Karya kepada para aktornya dalam film Ibunda (1986). Mengingat ia seorang jebolan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), Asrul Sani pernah mengatakan bahwa metode Stanislavsky diadopsi oleh ATNI untuk dijadikan metode pengajaran terhadap murid-murid yang bersekolah di situ (1993). Tidak hanya itu, Teguh Karya juga memiliki kelompok teater sendiri yang dinamai Teater Populer (didirkan pada 1968). Begitu pun dengan para pemain dalam film ini, mereka adalah anggota Teater Populer itu sendiri. Latar belakang inilah yang kemudian menjadi corak dalam film Ibunda (1986). Film ini adalah buah hasil proses pengalihwahanaan tradisi teater ke dalam sinema.

***
Figur seorang ibu dalam film bisa kita tarik dan lihat pada masa awal sinema, salah satunya lewat Mother (1926), garapan Vsevolod Pudovkin. Dalam film Pudovkin, perjuangan rakyat untuk melawan rezim begitu jelas diperlihatkan. Pavel, sang anak ibunda ditangkap karena menjadi bagian dari protes rakyat. Karya yang diadaptasi dari novel Maxim Gorky ini memperlihatkan bagaimana masyarakat adalah sekrup-sekrup bagi pembangunan sebuah negara. Film ini juga memperlihatkan kritiknya terhadap sistem birokrat yang korup di era tersebut (1905). Bila masyarakat digambarkan sebagai sekrup untuk pembangunan negara dalam Mother, masyarakat dalam Ibunda digambarkan memiliki konflik-konflik yang ranahnya personal. Mother terkait dengan masyarakat dan institusi negara. Sedangkan Ibunda, ia lepas dari negara, dan berfokus pada kehidupan masyarakat itu sendiri. Namun, figur ibu yang mengasihi dan menjaga anak dari marabahaya terlihat serupa di dalam kedua film. Sang ibu dalam film Pudovkin mendampingi anaknya dalam menghadapi institusi negara yang korup. Sedangkan sang ibu dalam film Teguh, mendampingi anaknya dalam menghadapi masalah-masalah pribadi mereka.
Konstruksi Mother dibentuk melalui potongan-potongan gambar yang cepat. Montase terbentuk dari pergantian satu shot ke shot lainnya. Ekspresi wajah ditampakkan secara close up untuk menunjukkan ekspresi atas sebuah kejadian di waktu yang sama. Seperti contoh, ketika Pavel didakwa hukuman kerja paksa oleh hakim, gambar langsung beralih ke wajah sang ibu yang kaget dan langsung protes kepada hakim. Kesegeraan ekspresi atas stimulus eksternal ini cukup berbeda dari apa yang dikonstruksikan Teguh Karya dalam Ibunda. Ada beberapa adegan yang ditunjukkan bahwa mimik wajah digunakan untuk basis konstruksi terhadap adegan selanjutnya.

Contoh penekanan mimik wajah ini dapat dilihat pada adegan pernikahan keponakan Gatot. Tensi secara perlahan dibangun dari upacara pernikahan. Tamu undangan mulai berdatangan, mengisi ruang acara. Shot yang dipakai kemudian dominan close-up dan medium close-up. Kombinasi antara pemilihan shot dan datangnya para tamu undangan membuat ruang menjadi padat. Kemudian, padatnya tamu yang berdatangan semakin memperkuat tensi. Hal tersebut memberi beban kepada Gatot untuk menjaga sikap keramah-tamahannya. Visual adegan tersebut lambat laun menjadi sesak karena tamu datang silih-berganti. Kemudian datanglah Fitri, bersama dengan Luke. Kamera langsung mengarah pada wajah Gatot yang berubah marah ketika melihat wajah Luke. Shot wajah Ida yang berubah tidak enak pun juga ikut diperlihatkan. Amarah Gatot berusaha untuk dipendam, tenggelam di balik keramaian para tamu undangan. Amarah Gatot kemudian terjelaskan lewat adegan selanjutnya. Hal itu ditunjukkan oleh Ida yang memarahi Fitri karena mengajak Luke ke acara pernikahan saudaranya.

Mengenai suku terbesar di Indonesia yang dominan, Teguh Karya begitu jelas memberi kritikan terhadap masyarakat Jawa kelas menengah yang memiliki sentimen terhadap orang Papua. Bila kita ingat perkataan Ida bahwa masalah Luke adalah masalah tatanan keluarga, sentimen masih begitu terlihat, meskipun tidak secara terang-terangan ditunjukkan langsung ke Luke. Yang menarik lagi adalah, Teguh Karya juga memanfaatkan prasangka dan komunikasi tidak langsung untuk mengkonstruksi ketegangan filmnya. Ketegangan atas masalah Luke ini datang dari prasangka Gatot. Namun, pikiran-pikiran Gatot tidak pernah secara langsung ia sampaikan kepada Luke. Alhasil, prasangka tersebut menyebar melalui Ida. Yang berprasangka Gatot, yang bertengkar jadi satu keluarga. Di sini kita diperlihatkan bagaimana Teguh Karya membingkai pola komunikasi keluarga Jawa saat berkonflik. Justru karena ketidaksukaan Gatot atas Luke tidak disampaikan secara langsung, jalur konflik tersebut malah menjalar ke mana-mana. Akumulasi ketegangan tidak hanya diperlihatkan melalui mimik wajah para karakter, tetapi juga dari omongan-omongan tentang Luke yang tukang mabuk, dan bagaimana Fitri terus-menerus merasa diatur tingkah lakunya oleh keluarganya.

Di situlah terlihat bahwa Teguh memanfaatkan mimik wajah untuk mengkonstruksi filmnya. Kemarahan para tokoh tidak langsung ditunjukkan di lokasi dan adegan yang sama. Ia mengendap, tertahan di wajah-wajah para aktornya. Ketegangan itu akhirnya pecah di adegan selanjutnya ketika Ida memarahi Fitri yang mengajak Luke ke acara pernikahan tersebut. Di sinilah kemudian Teguh memanfaatkan ruang pula untuk menunjukkan ekspresi emosi seseorang. Film yang dominan berada di dalam rumah ini memperkuat motif para tokoh untuk menyatakan perasaan dan pikiran mereka. Di dalam rumah, dialog yang personal bisa lebih leluasa disampaikan dan dinegosiasikan. Di dalam rumah, ibunda bisa menasihati anak-anaknya. Di dalam rumah, masalah sentimen terhadap orang Papua bisa lebih terbuka untuk dibicarakan. Dibandingkan di ruang publik seperti acara pernikahan, masalah-masalah sosial tidak bisa sebegitu leluasanya didiskusikan secara gamblang.
***
Dalam Ibunda, kekuatan dialog, omongan, dan informasi juga sama kuatnya. Melalui omongan Gatot, hubungan Fitri dan Luke jadi runyam. Melalui informasi media, hubungan Fikar dan produsernya menjadi tersibak. Dan ujungnya, melalui omongan Ida, Fikar ketahuan punya anak-istri, dan akhirnya diusir oleh sang produser dari rumahnya.
“Yang penting adalah watak dan pendidikan.”
Kata-kata itu menunjukkan prinsip sang ibu ketika menasihati Gatot. Dari sinilah mulut ibu juga punya peran untuk meluruskan jalan anak dan cucunya. Hal yang sama juga terjadi saat Fikar, sang anak, maupun Agus, sang cucu, mengungkapkan mimpi-mimpinya. Saat mimpi-mimpi mereka disampaikan, ibunda hanya membalas “boleh”, ataupun “bisa”. Namun disusul dengan kata-kata:
“Kaya itu hak, terkenal itu hak. Tapi jangan dikira semua itu bisa bikin orang bahagia.”
Ibunda di sini jelas tidak punya materi untuk mendukung anak dan cucunya. Namun, kebijaksanaannyalah yang menjadikannya punya daya tawar. Ia orang yang tegas dan lembut. Kebijaksanaannyalah yang mampu merekatkan keluarganya, dan mencegahnya dari perpecahan. Mungkin saja inilah imajinasi Teguh Karya atas sebuah bangsa, bahwa kerekatan suatu bangsa dimulai dari ibu. Ibu yang merekatkan dan menuntun jalan anak-anaknya, agar tidak terjebak pada jalan yang salah. Ibunda adalah sumber dan pedoman moral bagi anak-anaknya. Itulah posisi yang signifikan pada diri ibunda. Ia tetap tegar, dan apa pun situasi yang menimpa, prinsipnya tetap sama. Sama terhadap Luke yang mau menerima kehadirannya terlepas dari etnisnya; Sama seperti Fikar yang datang ke ibunya, yang dikhawatirkan adalah Yati (Ayu Azhari) dan Bambang yang terlantar; Dan sama ketika sedang menegur Gatot, ia memilih menjadi orang yang sederhana.

Berbicara soal Gatot, posisinya pun ikut ditantang di sini. Apakah karena ia adalah orang yang menafkahi keluarga, lantas posisinya bisa mendominasi anggota keluarga yang lain? Di sinilah ibunda turun tangan. Akhirnya, ibunda ngomong langsung pada Gatot bahwa permasalahannya terhadap orang adalah pemaksaan kehendaknya pada orang lain. Berbagai masalah yang menghampiri keluarga ini bagaikan benang kusut yang tengah berusaha diurai oleh sang ibunda. Ia selalu hadir, selalu ada untuk keluarga dan hanya untuk keutuhan keluarganya. Teguh Karya memanfaatkan figur ibu Rakhim untuk menunjukkan fenomena sosial yang sekiranya perlu ditantang dan dikritisi. Jadi, omongan ibunda tidak hanya sebagai pedoman moral, tapi ia juga sebagai figur yang berani menegur dan mengkritik orang-orang di sekitarnya. Sosok ibu yang mengasihi dan menyayangi sama-sama terlihat pada film Pudovkin dan Teguh. Tidak hanya mengasihi, ibu dalam Pudovkin akhirnya melawan kekejaman negaranya, ibu dalam Teguh membimbing anak-anaknya untuk menjadi manusia yang bermoral.

Bila mengacu pada Krishna Sen (1994), figur perempuan yang selama ini banyak muncul di perfilman adalah figur yang pasif, dan kehadirannya adalah untuk mendongkrak penjualan filmnya. Menurut Sen, Sebagian besar genre film Indonesia memang dibuat untuk melihat perempuan. Bukan soal mata perempuan, ataupun perempuan yang mempunyai peran aktif di dalam film. Namun, sosok perempuan yang pasif tersebut tidak tercermin pada sosok ibu Rakhim. Potret ibunda di sini adalah figur seorang ibu yang berperan aktif mengambil berbagai tindakan. Ibu Rakhim secara aktif angkat bicara apabila ada hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai moral yang ia anut. Ia adalah figur sentral dan tokoh kunci di dalam film ini.
***
Film ini menceritakan keresahan warga ibu kota melalui lensa mikro, sebuah keluarga Jawa. Ibunda tetap menjadi orang yang biasa-biasa saja. Anak-anaknya, melalui tutur katanya, kembali pada jalan moral yang baik. Bahkan Gatot yang menjadi tokoh antagonis dalam film ini, mau mendengar perkataan ibunda dan merasa tersadar atas kekhilafan yang ia perbuat. Fikar yang ditinggal oleh produsernya, merasa karirnya sudah usai. Namun, ibunda kembali menguatkannya. Dan mendorong kembali Fikar untuk memulai lagi. Dinamika relasi terus-menerus ditantang dan dinegosiasikan. Konflik-konflik dalam film berdatangan dan muncul melalui dialog. Namun begitu, relasi hubungan antarmanusia di film ini juga berkembang dan diperbaiki melalui dialog. Film ini menekankan pada aspek humanis dan rasa memaafkan.

Bila kita lihat lagi, ada dua ibu dalam film ini yang juga beroperasi dalam hal yang serupa. Ada ibu Rakhim, yang menjadi kepala keluarga bagi anak-anaknya. Masalah anak-anaknya kemudian bermuara kepada ibu Rakhim, dan ia bertindak sebagai pedoman moral bagi anak-anaknya. Dan yang kedua ada ibu-kota, tempat berkumpulnya orang-orang di seluruh Indonesia. Masalah sosial dan ekonomi berkumpul di sini. Ibukota menjadi wadah bagi permasalahan masyarakat, dan ia saling didialogkan dan terus-menerus ditantang. Begitulah potret ibukota yang digambarkan oleh Teguh Karya. Orang-orang, dan masalah-masalahnya dibawa kepada ibu, dan terjadi di dalam/sekitar ibu. Manusia yang sejatinya berasal dari rahim ibu, kembali kepada ibunya, seperti penutup film ini, semua orang kembali masuk ke dalam rumah ibu. Kemudian ibu menjadi orang terakhir yang masuk ke rumah. Memastikan semua anak-anaknya masuk ke dalam rumah, dan memastikan bahwa anak-anaknya aman. Bingkai terakhir film ini diakhiri oleh dua perempuan. Ibu Rakhim dan cucu perempuannya: perempuan dalam keluarga yang paling tua, dan perempuan dalam keluarga yang paling muda. Shot ini seperti menyiratkan kita bahwa sang cucu akan menjadi ibunda baru, menggantikan tugas ibu Rakhim yang akan semakin menua.
Bibliografi
Stanislavski, C. (1967). An actor prepares (diterjemahkan oleh E. R. Hapgood). Theatre Arts Books. (Karya asli diterbitkan pada 1936).
Sen, K. (1994). Indonesian cinema: Framing the New Order. Zed Books
Catatan Redaksi
Kami melakukan penyuntingan pada beberapa bagian untuk menyesuaikan ketentuan redaksional FOOTAGE. Pemuatan kembali tulisan ini di situs web footage.id dilakukan dalam rangka distribusi pengetahuan secara terbuka.


Tinggalkan Balasan