Sumber:
Wijayarana, A. 2025. “Mengkritik Masyarakat Lewat Candaan dalam film Cintaku di Rumah Susun”. Dalam O. Widasari (peny.), FILM KLASIK INDONESIA: KUMPULAN ESAI KURATORIAL KRITIS. Jakarta: Forum Lenteng, hlm. 208-221.
“Selamat Datang di Ibukota”
Terlihat papan yang tertulis di pembuka film, Cintaku di Rumah Susun (1987) bercerita tentang perilaku masyarakat urban, terutama di lingkungan rumah susun. Film yang disutradarai oleh Nya’ Abbas Akup ini menceritakan kisah dinamika sosial para penghuni sebuah rumah susun dalam menjalani keseharian mereka. Kita bisa mulai dari Somad (Deddy Mizwar), seorang pria berumur 32 tahun yang ingin sekali punya pacar. Ada pula Mastun (Rima Melati), seorang janda yang hidup sendiri, dan selalu didatangi oleh pemilik sewa kamar karena menunggak bayaran terus. Tokoh lainnya adalah Zuleha (Eva Arnaz), seorang simpanan laki-laki yang menjadi buah bibir tetangganya. Dinamika pergulatan masyarakat ibukota ini dihadirkan dengan cara komedi. Dibingkai dengan kisah cinta, disentil pula dengan kritik sosial yang lucu. Cintaku di Rumah Susun menggambarkan potongan-potongan permasalahan masyarakat Jakarta yang berusaha mencari cinta di tengah-tengah masalah sosial yang terus bergejolak. Sindiran sosial atas perbedaan kelas melalui kisah cinta Somad, hingga sentilan tentang aparatur negara melalui figur Sandrak (Kadir).

Jika kita berbicara tentang Rumah Susun, pada saat Soeharto berkuasa, semangat pembangunanisme begitu digaungkan. Pembangunan di mana-mana dilaksanakan, termasuk dibangunnya rumah-rumah susun. Gagasan ini sebetulnya sudah muncul pada era walikota Sudiro di pertengahan tahun 1950-an. Program rumah susun ini kemudian mulai direalisasikan pada era Soeharto dengan diresmikannya Rusun Kebon Kacang, Rusun Klender, dan Rusun Tanah Abang pada tahun 1980-an. Rumah susun awalnya digarap pemerintah untuk menyelesaikan masalah penataan ibukota dan tempat tinggal masyarakat yang mulai ruwet. Tujuan dari pembangunan rumah susun ini tentunya untuk mengontrol pembangunan kawasan hunian agar tidak terlalu melebar, dan untuk efisiensi lahan untuk fasilitas publik di sekitar kawasan permukiman. Kemudian, bagaimana perilaku masyarakat bertetangga di bangunan rumah yang tergolong baru ini? Dari sini kita bisa lihat bahwa film Cintaku di Rumah Susun mencerminkan semangat zaman, sekaligus memotret dinamika perilaku bertetangga warga rumah susun. Dari mata Nya Abbas Akup, pembangunan bisa menjadi solusi atas penataan ruang, namun bukan menjadi solusi atas ketimpangan sosial di masyarakat.
Nya Abbas Akup sendiri adalah sosok sutradara yang membuat film-film komedi. Di tengah ketatnya sensor film di era Soeharto, film-film Nya Abbas Akup jarang mendapat sorotan sensor karena film-filmnya yang bernada bercanda. Film-filmnya pun diminati oleh khalayak luas. Sebagai sutradara, ia berhasilkan menelurkan 27 film. Namun, yang menarik dalam film-film Nya Abbas adalah, ia tidak hanya membuat film yang lucu saja. Film-filmnya juga memiliki sindiran dan kritik atas kondisi negara yang sedang terjadi di era itu. Sekiranya inilah yang membuat film ini penting. Nya Abbas berhasil membuat film yang mengkritik dan menyindir realitas sosial dengan jenaka.
***
Setelah adegan kereta lewat dan visual menunjukkan papan bertuliskan “Selamat Datang di Ibukota”, adegan kemudian beralih ke lokasi Rumah Susun. Tokoh-tokoh dalam film ini mulai diperkenalkan satu per satu. Lalu, bagaimana Nya Abbas mengonstruksi visual agar eksplorasi bangunan itu menjadi logis di dalam filmnya? Salah satunya, dengan memanfaatkan tokoh Zuleha yang baru datang dari luar. Melalui Zuleha dan temannya yang membawa bir, kamera berkeliling naik menyorot jendela, menyorot beranda Rumah Susun yang dipenuhi anak-anak. Ada juga sepasang suami istri yang sedang bercumbu. Melalui intipan kamera, kita juga diperkenalkan demografi penghuni Rumah Susun yang berasal dari berbagai macam usia.


Satu cara yang ampuh lagi adalah, dengan membuat keributan. Melalui adegan Zuleha yang sedang mandi, air buangan mandinya bocor ke rumah Osi (Jajang C. Noer) dan Somad. Osi, yang sudah hilang rasa sabarnya karena rumahnya mengalami kebocoran terus-menerus, memutuskan untuk berkonfrontasi dengan Zuleha. Osi yang sudah kepalang emosi, tidak bisa menahan amarahnya. Akhirnya, pertengkaran tidak dapat lagi terhindarkan. Melalui adegan itulah, kita mengalami wisata arsitektur Rumah Susun yang padat dan penuh dengan penghuninya. Atas keributan itu, sebagian besar tokoh-tokoh dalam film jadi muncul di kamera. Nya Abbas mampu memanfaatkan adegan keributan dengan baik. Bangunan Rumah Susun yang bertingkat jadi tereksplor. Berbagai macam sifat penghuni, dan perilaku, tergambar dengan begitu efektif. Perilaku bertetangga pun akhirnya bisa tersingkap secara organik. Di sini, kita bisa melihat bahwa balkon Rumah Susun menjadi ruang komunal bagi para penghuninya. Balkon menjadi tempat untuk berinteraksi dan saling sapa para tetangga.
Selain permainan visual yang mumpuni, Nya Abbas juga mengolah aspek bunyi dengan baik. Elemen-elemen bunyi diolahnya menjadi penanda lokasi, seperti suara orang mengaji, bunyi radio yang menyiarkan pertandingan sepak bola, suara tetangga yang sedang berbincang-bincang, bunyi musik yang diputar, ada juga suara tangis bayi, hingga bunyi kereta yang lewat.


Berbicara tentang bunyi kereta, buat masyarakat Rumah Susun, bunyi kereta adalah bunyi keseharian. Para penghuni, dalam film ini, berinteraksi satu sama lain dengan berteriak. Hal itu dikarenakan seringnya kereta lewat. Kita bisa tengok di adegan Somad yang bercerita pada Badrun saat dia sedang berurusan dengan satpam Mall. Hampir-hampir kita tidak bisa mendengar suara Somad bercerita. Kita tahu secara visual bahwa Somad sedang bicara, tapi makna yang ia sampaikan tidak jelas terdengar. Di lain adegan, Asmuni sang pak RT yang asik main biola cukup terganggu dengan adanya kereta yang lewat, karena tidak bisa mendengar nada permainannya dengan jelas. Setelah bunyi kereta lewat, ia melanjutkan main biola tersebut dengan wajah yang riang. Detail kecil ini memberitahu kita bahwa meskipun bunyi kereta ini menginterupsi interaksi warga, ia adalah bagian dari kehidupan warga Rumah Susun.
Masih soal unsur audio, kekuatan dialog pun juga sama kuatnya. Aspek ngerumpi punya peranan yang penting bagi masyarakat Rumah Susun. Ia penyebar kabar dan menjadi alat penyatu warga Rumah Susun. Seperti Zuleha yang sering membeli bir hingga satu krat, ia menjadi bahan pembicaraan Mastun dan Dindin. Meskipun kita tahu bahwa yang dibicarakan adalah tetangga sendiri, tapi ia menjadi modal untuk merekatkan diri. Aksi menguping pun juga dimanfaatkan dengan baik. Seperti misal adegan Badrun yang menguping pembicaraan Gandon (Galeb Husein) dan Zuleha tentang membeli rumah baru, obrolan tersebut kemudian ditiru oleh Badrun saat ia datang mengunjungi rumah Gandon. Gandon yang merasa takut jika ia ketahuan punya perempuan simpanan, langsung menyambut Badrun dan Somad sebagai tamu kehormatan.
Dari ramuan audio-visual yang sudah tercampur dengan baik ini, apa yang sebetulnya ingin disampaikan Nya Abbas Akup?
Persoalan kelas rasanya tidak bisa dipungkiri dalam film ini. Jakarta adalah tempat orang-orang di seluruh Indonesia berkumpul. Dari kalangan kelas atas macam Gandon dan Enka (Yana Zein), ataupun kalangan kelas pekerja seperti para penghuni Rumah Susun. Citranya yang memukau, membuat orang-orang datang ke ibukota, mengadu nasib agar bisa bertahan hidup dan mencari kemakmuran bagi diri mereka. Si kaya tinggal di rumah gedongan, di daerah komplek yang tertata dengan rapi. Sedangkan si kelas pekerja berada di rumah susun, yang lingkungannya berada di dekat rel kereta api. Perbedaan kelas ini begitu kentara diperlihatkan kepada kita saat Somad dan Badrun datang untuk mengunjungi Enka. “Daerah orang kaya, Drun! Daerah ekonomi berat!”, ucap Somad dan Badrun yang terperangah pada rumah-rumah gedongan yang mereka lewati. Komplek rumah gedongan yang didatangi oleh Somad dan Badrun dijadikan sarana berkhayal oleh mereka berdua. Ada impian yang muncul di benak mereka, bahwa mereka juga ingin menjadi orang kaya seperti Gandon dan Enka. Dengan nada bercanda, Badrun mengingatkan Somad untuk mengangkatnya menjadi koordinator transportasi bila suatu hari nanti Somad menjadi seorang direktur.
Eksplorasi isu perbedaan kelas menjadikan film ini punya kekuatan yang kuat. Dari segi perilaku konsumsi pun, kita juga bisa melihat perbedaan yang terjadi di antara dua tokoh yang sedang berdialog. Jukstaposisi diperlihatkan melalui dialog saat Somad sedang berbelanja di Pasar Swalayan. Saat itu, Badrun sedang membawa penumpang dan bilang, “Tumben, biasanya di kaki lima,”—mengisyaratkan bahwa tidak biasanya Somad berbelanja di Mall. Kontradiksi ini kemudian dihadirkan di adegan lain saat Somad menemani Enka berbelanja. Somad bertanya kepada Enka berapa kali ia belanja dalam sehari, dan Enka menjawab tiga kali dalam sehari. Somad memperlihatkan ekspresi kekagetan di wajahnya, namun ditanggapinya dengan bercanda, “Seperti minum obat aja!”, untuk menutupi rasa kaget dari dirinya. Jelas sekali Nya Abbas menyampaikan kritik ini dari celetukan-celetukan jenaka dari para pemainnya. Seolah celetukan itu adalah candaan. Namun, muatan candaan tersebut bisa dibaca sebagai perilaku konsumtif yang berlebihan dari masyarakat kelas atas.

Perbedaan strata ekonomi ini juga menimbulkan masalah yang lain. Perbedaan kelas menimbulkan prasangka buruk Gandon terhadap Somad dan Badrun. Saat Somad dan Badrun bermaksud mengembalikan tas Enka yang dijambret, Gandon menganggap mereka berdua bermaksud untuk memeras Gandon. “Biasanya yang menemukan menguras dulu isinya,” ucap Gandon dengan tatapan penuh curiga. Celetukan tersebut seolah menunjuk orang-orang seperti Somad dan Badrun adalah orang-orang yang jahat. Gandon sebagai representasi orang kelas atas, memberi jarak pada dirinya dan orang-orang seperti Somad dan Badrun.
Pada akhirnya, Somad yang bermimpi untuk meraih Enka, tidak mampu ia gapai. Perbedaan kelas ini menjarakkan, dan dengan tegas terucap dari mulut Enka bahwa tidak mungkin ia bercinta dengan orang macam Somad, seorang pemuda yang tinggal di rumah susun. Pada akhirnya, Somad menjadi pacarnya Cici, tetangganya di rumah susun, dengan status ekonomi yang setara. Nya Abbas seperti mengembalikan kita pada realita bahwa, dua kelas ini akan selalu memiliki sekat, dan ia akan selalu punya gesekan satu sama lain.
Sindiran lain yang bisa kita refleksikan adalah celetukan-celetukan tentang aparatur negara yang disampaikan dengan bercanda. Kita bisa mulai pada adegan Somad yang dituduh mencuri tas Enka di parkiran Mall. Satpam Mall langsung menggenggam lengan Somad. Meskipun Enka sudah bilang bukan Somad pencurinya, sang satpam malah bilang, “Bapaknya tangkep dulu, salah-benernya belakangan.” Mengisyaratkan pertanyaan atas kapabilitas aparat dalam menangani hukum di Indonesia.

Pada adegan lain pun juga diperlihatkan setelah Enka menyatakan penolakannya pada Somad. Badrun yang melihat kesedihan Somad, langsung mengajaknya untuk pergi menemui Enka. Setelah sampai di rumah Enka, Enka langsung ditarik Badrun untuk segera menemui Somad. Di ruangan itu ada Sandrak, teman Gandon yang baru saja kabur dari penjara. Sandrak adalah pasangan asli Zuleha. Namun, karena Zuleha sedang disembunyikan dan ia adalah simpanan Gandon, Gandon mengaku tidak tahu di mana keberadaan Zuleha. Akhirnya, karena kebelet kawin, Sandrak memutuskan untuk segera meminang Enka. Setelah melihat kejadian Enka ditarik paksa Badrun, Sandrak pun terkaget-kaget. Saat itu Sandrak yang kacau hati karena Enka “dirampas” langsung berkelakar dengan mengatakan, “Negara hukum mana boleh merampok?! Mana boleh menculik?! Mana boleh menggusur?!” Sebuah ironi yang keluar dari kata-kata Sandrak, seorang narapidana yang kabur dari tahanan penjara. Di sinilah terlihat kelihaian Nya Abbas dalam menyampaikan kritik terhadap pemerintah, dan tetap bisa lolos sensor. Ia seperti mengatakan kepada kita bahwa negara ini dijalankan oleh orang-orang yang korup, sedangkan kondisi negara pun belum sepenuhnya baik-baik saja.
***
Pada dekade 1970-an, film-film impor yang memuat konten-konten seksual dan eksplisit mulai masuk ke Indonesia. Tren mulai naik, produksi film-film ini akhirnya ikut melonjak di ranah produsen lokal. Hal itu disebabkan oleh mulai lesunya film-film Indonesia karena kalah saing dengan film-film impor. Thomas Barker (2022) mengatakan bahwa tahun 1970-1980-an merupakan “era keemasan” figur bom seks. Di industri perfilman Indonesia, terdapat tipe bintang perempuan yang disebut “bom seks”, yaitu kesediaan dan keberaniannya untuk tampil dalam peran yang melibatkan seks dan rayuan, serta dalam adegan yang memerlukan pakaian minim. Hal ini karena naiknya popularitas para aktris, peran-peran yang mereka mainkan, dan juga kehidupan mereka di luar film yang dimuat dalam media. Figur para perempuan ini pun akhirnya makin digenjot untuk kebutuhan larisnya film.

Nya’ Abbas Akup mengajak salah seorang figur tersebut, Eva Arnaz, untuk memerankan karakter Zuleha. Namun, motif atas penggambaran karakter tersebut tidak sama dengan film-film esek-esek yang memanfaatkan tubuh perempuan untuk menjual filmnya. Tubuh perempuan dalam film Nya’ Abbas merupakan bagian dari ramuan filmnya yang mengkritik isu masyarakat. Nya’ Abbas langsung memilih Eva Arnaz yang seorang ikon bom seks untuk memerani karakter Zuleha. Dari karakter Zuleha, Nya’ Abbas menyampaikan kritik gaya hidup mewah masyarakat kelas atas dengan cara karikatural. Adegan-adegan seperti Mastun yang menyingkap dasternya saat didatangi pemilik rumah, Zuleha yang menggunakan kecantikannya untuk kepentingan materialnya, dan Dindin yang suka memperlihatkan kemolekan tubuhnya, tak lain adalah sebuah ekspresi karikatural dalam film ini.
Seperti pada karakter-karakter perempuan lainnya, sosok Zuleha juga digambarkan sensual dan suka menggoda. Kita sudah melihat perbedaan kelas yang jelas terlihat di kehidupan ibukota. Selain itu, tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi juga harus dipenuhi. Zuleha memanfaatkan kemolekan tubuhnya agar bisa menaikkan taraf hidupnya. Seperti yang ia katakan kepada Cici, laki-laki itu sebenarnya bego dan gampang disetir. Cara-cara ini ia manfaatkan agar bisa bertahan di ibukota. Maka dari itu, ia menjadi simpanan Gandon. Kebutuhan-kebutuhan Zuleha menjadi tercukupi. Ia punya baju-baju yang bagus. Ia bisa membeli bir satu krat tiap hari. Namun, keberadaannya di Rumah Susun menjadikannya terlihat berbeda dari penghuni lainnya. Gaya hidup yang dijalani oleh Zuleha tampaknya menjadi timpang jika dibandingkan dengan gaya hidup para tetangganya. Pesta yang heboh, di lokasi yang berdempetan dengan tetangga, menimbulkan keresahan bagi orang sekitar karena merasa keberisikan. Dan kita pun jadi tahu mengapa sering terjadi kebocoran di rumah Osi dan Somad. Hal itu terjadi karena beban rumah Zuleha yang terlalu berat, diisi oleh banyak barang. Tampaknya, Rumah Susun tidak mampu menampung gaya hidup Zuleha. Hal tersebutlah yang kemudian menimbulkan konflik antarwarga. Lagi-lagi, perbedaan kelas menimbulkan gesekan bagi masyarakat ibukota.

Sebetulnya, Zuleha bukan orang yang jahat. Hal tersebut ditunjukkan ketika ia ingin mendonasikan uang sebesar Rp.777.000 untuk membayar utang Mastun. Namun, posisinya yang sudah terlanjur dilihat sebagai simpanan orang, dan juga kadung membuat Osi kesal terhadapnya, menjadikan citranya buruk di mata warga Rumah Susun. Sindiran atas kemewahan begitu jelas diperlihatkan. Film ini menunjukkan bahwa Ibukota bukan hanya sekadar bermewah-mewah. Ia juga menunjukkan bagaimana ragam manusia ini saling berstrategi dan mencari jalan untuk bisa naik kelas dan dapat meraih kehidupan yang lebih baik.
***
Film ini diawali di Rumah Susun, dan diakhiri pula di Rumah Susun. Saat itu, Sandrak yang marah karena Enka “dirampas”, memutuskan untuk mencari Somad untuk dimintai pertanggungjawaban. Akhirnya, keributan terjadi di Rumah Susun itu. Karena si nenek, salah satu karakter dalam film ini, salah mendengar nama Somad menjadi “bom”, seisi Rumah Susun menjadi heboh. Saat itu, Zuleha sedang bersiap untuk pindah. Atas arahan Gandon karena takut ketahuan Sandrak, mereka bergegas pindah lokasi. Kesemua situasi ini menimbulkan kekacauan yang ruwet. Mengingatkan saya akan adegan terakhir film 8 ½ (1963) karya Federico Fellini, kekacauan ini seperti sirkus yang sedang berlangsung. Kejadian Zuleha yang segera pindah dan Sandrak ditangkap hansip, terjadi di balkon Rumah Susun. Semua warga dapat melihatnya, semua warga bisa menontonnya. Akhir dari film ini seperti menjadi sebuah tontonan bagi warga Rumah Susun. Kehebohan ini menjadi klimaks, ditambah suasana yang ramai karena sedang ada iring-iringan musik Betawi tanjidor yang sedang berlangsung di dekat Rumah Susun itu. Peristiwa di Rumah Susun menjadi meriah, seperti sedang adanya pertunjukan. Semakin menegaskan bahwa rapatnya jarak kamar rumah susun menjadikan masalah pribadi para penghuninya punya potensi untuk diketahui oleh para tetangganya. Kita boleh berandai, terlepas dari permasalahan pembangunan yang terjadi di ibukota, dan gesekan sosial antarkelas yang terjadi di film ini, Nya Abbas sedang merayakan ibukota. Nya Abbas sedang merayakan kehidupan masyarakat urban yang penuh dengan lika-liku dan ketakterdugaan yang sering hadir.

Secara isi film, ia berisi candaan yang bertujuan untuk menghibur penontonnya. Namun, candaan itu juga berisi pengingat dan teguran atas apa yang sedang terjadi di luar layar. Itulah kekuatan dari film ini. Selain itu, boleh dikata Cintaku di Rumah Susun berhasil memotret kehidupan masyarakat rumah susun ini dengan jeli. Detail kecil soal bunyi-bunyian yang muncul dalam film ini memperkaya nuansa rumah susun yang padat dan penuh dengan kejadian-kejadian lucu. Detail lain yang tak bisa dilewatkan adalah perilaku warga rumah susun yang berinteraksi di balkon sebagai ruang komunal. Ada pula perilaku warga rumah susun, seperti membeli barang dari penjual keliling dengan menggunakan katrol agar tidak perlu repot turun ke bawah. Ada juga penggambaran perilaku warga yang menjemur pakaian di tempat yang berangin, seperti misal di jendela balkon. Hal ini juga menunjukkan bahwa gestur-gestur para tokoh yang dikonstruksi ini adalah potret masyarakat urban dalam merespons dan menyiasati tempat tinggal mereka yang memiliki berbagai keterbatasan.

Nya Abbas tidak sekadar hanya mengambil lokasi rumah susun sebagai latar narasi film. Ia paham betul bagaimana warga rumah susun berkegiatan. Seluk-beluk itu sudah ia mengerti, ditambah dengan kepekaannya terhadap intrik-intrik sosial yang terjadi di masa itu. Maka, tidak heran jika media Pelita Minggu, edisi 14 April 1991, menyebut sikap berkesenian Nya Abbas Akup adalah “mencubit tanpa sakit, menegur tanpa amarah”. Ia berhasil memanfaatkan tren untuk menyampaikan kritik sosial tanpa membuat orang marah, sekaligus membuat penonton tertawa karenanya.
Bibliografi
Armand, A., & Sopandi, S. (2021). Gerak Jakarta: Sejarah ruang-ruang hidup. PT Pembangunan Jaya.
Sen, K. (1994). Indonesian cinema: Framing the New Order. Zed Books.
Barker, T. (2022). The Indonesian sex bomb: Female sexuality in cinema, 1970s–90s. In J. Driskell (Ed.), Film stardom in Southeast Asia. Edinburgh University Press.
Catatan Redaksi
Kami melakukan penyuntingan pada beberapa bagian untuk menyesuaikan ketentuan redaksional FOOTAGE. Pemuatan kembali tulisan ini di situs web footage.id dilakukan dalam rangka distribusi pengetahuan secara terbuka.


Tinggalkan Balasan